Showing posts with label Pelajaran Hidup. Show all posts
Showing posts with label Pelajaran Hidup. Show all posts

Saturday, December 14, 2013

Karena kesibukan pekerjaan kantor, sudah beberapa hari saya tidak sempat untuk menuliskan ide-ide yang berseliweran, kangen rasanya untuk kembali menorehkan celoteh hati dalam tulisan yang mudah-mudahan ada manfaatnya, terutama manfaat buat diri sendiri agar ketika membaca tulisannya merasa diingatkan kembali.

Beberapa waktu yang lalu ketika saya sedang asik terlibat diskusi mengenai tema kegiatan yang akan kami laksanakan dalam sebuah organisasi nirlaba melalui sebuah grup dalam gadget, tiba-tiba salah satu rekan kita menyampaikan pendapat "Rasanya engak penting nih membahas hal ini lebih baik kita action" ada lagi yang berpendapat "Saya malah khawatir nih kebanyakan ide malah kerjanya enggak" setelah ada ungkapan seperti maka secara spontan diskusi yang sedang dilakukan menjadi berhenti dan beberapa rekan yang memberikan ide akhirnya tidak muncul kembali dalam pembicaraan selanjutnya.

Saya merasa ter gelitik dengan ungkapannya namun untuk menegur secara langsung pun rasanya tidak etis khawatir malah menimbulkan friksi yang berdampak lebih negatif.

Ungkapan penghentian ketika sebuah diskusi yang hangat sedang berlangsung rasanya tidak etis apabila diungkapkan secara langsung, kalaupun mau menghentikan diskusinya ada baiknya kita melakukannya dengan cara yang lebih halus tidak serta merta menyebutkan bahwa apa yang sedang didiskusikan tidak bermanfaat. Cara yang lain mungkin bisa kita lakukan dengan memunculkan ide topik pembahasan yang baru, sehingga tanpa disadari oleh lawan diskusi kita, kita sudah mengalihkan topik pembicaraanya. 

Dalam sebuah organisasi menghargai pendapat orang lain menjadi hal yang penting, karena dinamika dalam sebuah organisasi akan mendorong pada peningkatan peran anggota organisasi tersebut, jika saja untuk mengungkapkan ide, saran dan sumbang pemikiran atas penomena yang ada dalam organisasi tersebut sudah dimentahkan, maka bukan tidak mungkin hal tersebut akan menutup keterlibatan anggota tersebut dalam organisasi yang diikutinya, bahkan bisa saja dia keluar dari keanggotaan organisasi tersebut. 

Kenapa kita harus menghargai pendapat orang lain, karena dalam pendapat orang lain itu bisa saja ada masukan yang penting untuk diri kita, kelompok kita, atau pun demi kemajuan kita bersama.

Nah bayangkan saja, kalau anda berpendapat terus tidak dihargai oleh orang lain, tentu saja akan menyakitkan hati kita, itu juga yang akan dirasakan oleh orang lain jika kita tidak menghargai pendapatnya, jadi mulai sekarang anda harus Menghargai Pendapat Orang Lain, Jika ingin di hargai, Maka Hargailah.

Boleh saja kita tidak setuju dengan pendapat orang lain atau memang pendapatnya salah, tetapi akan sangat baik apabila cara penyampaian ketidaksetujuan kita itu dilakukan dengan cara yang bijaksana.
Manusia yang “Berjiwa Besar” adalah manusia yang mampu menghargai pendapat dan keyakinan orang lain sekalipun berbeda dengan pendapat dan keyakinannya.

Seorang pemimpin yang handal dan visioner, biasanya bila berbicara dengan seseorang, mereka itu selalu mendengar dulu, memperhatikan apa yang dikatakan lawan bicaranya, mencermati, dan yang penting menghargai pendapat lawan bicara, bukan langsung mematahkan atau mencela apa yang disampaikan, tetapi dengan penuh kesopanan menghargai pendapat dan program-program yang telah dijalankannya. Setelah itu baru menambahkan dengan memasukan ide-ide yang ada di dalam pikirannya, bahkan ide-ide yang disampaikan itu jauh lebih baik dan lebih banyak dengan apa yang selama ini diprogramkan. Dengan cara-cara yang terlihat seolah-olah hanya intuitif, tetapi sebenarnya menggunakan teori-teori yang luar biasa hebatnya. Dengan pendekatan di atas, hampir semua masukan diterima dengan senang hati tanpa merasa tersinggung bagi yang menerimanya, bahkan tahap berikutnya bersedia mengimplementasikan dan mengajak seluruh jajarannya untuk melakukan hasil pembicaraan dimaksud.

Berikut ini beberapa tips untuk menghargai orang lain:
  • Dengarkan dan cerna dengan baik saat lawan kita sedang bicara dan jangan menyela pembicaraannya saat dia berbicara. Kita akan terhormat dan dihormati oleh lawan bicara kita.
  • Bila kita tidak sependapat dengan pendangan orang lain, jangan langsung kita katakan bahwa pandangannya itu salah, tapi carilah uangkapan kata yang indah dalam menyampaikan penolakan kita akan pandangannya. Dengan demikian komunikasi dialogis antara kita dengan lawan bicara akan berjalan kondusif dan tidak membuat dia merasa disepelekan.
  • Selama tidak mengangu target waktu atau agenda kita dalam diskusi biarkanlah orang lain untuk mengungkapkan ide-idenya, siapa tahu dari ungkapan lawan diskusi kita ada ide dan masukan yang bisa bermanfaat buat kehidupan kita, kalaupun anda merasa isi pembicaraanya tidak berkualitas maka jadilah pendengar yang baik, maka anda akan dihormati orang lain.
  • Berjiwa besarlah pada saat pendapat kita tidak diterima oleh orang lain, karena boleh jadi argumentasi kita kalah kuat dengan argumentasi orang lain.
  • Hormati teman kita kendatipun kita berbeda pendapat dengannya apalagi memandangnya sebagai musuh, jangan sampai persahabatan kita dengannya menjadi putus hanya dikarenakan terjadi perbedaan pendapat. 
Semoga bermanfaat dan kita bisa belajar untuk lebih menghargai pendapat orang lain.

Tuesday, November 12, 2013

Awal bulan November kemarin saya diminta oleh rekan saya di Dinas Koperasi Kota Bontang Kalimantan Timur untuk membantu salah satu koperasi yang ada dalam lingkup binaannya untuk menyelesaikan penyusunan Laporan Keuangannya yang berencana akan melakukan RAT pada akhir bulan November ini.

Karena saya pun bekerja juga, maka waktu yang dimiliki pun terbatas, namun Alhamdulilah kami bersepekakat untuk bertemu di Balikpapan di akhir pekan, tentunya sebelum keberangkatan saya harus mempersiapkan segala sesuatunya agar kami dapat bekerja efektif dalam waktu dua hari yaitu hari sabtu dan minggu untuk dapat menyelesaikan laporan keuangan.

Komunikasi awal telah kami lakukan melalui email dan telepon untuk berkirim data transaksi agar saya dapat menyusun kebutuhan sitem aplikasi yang bisa diterapkan serta menyusun daftar perkiraan (chart of account) yang dapat mewakili transaksi yang terjadi dikoperasi tersebut.

Berdasarkan data awal yang diterima selanjutnya saya menyusun dan menganalisa transaksi-transaksi yang tejadi, namun tetap saja ada beberapa transaksi yang tidak mudah untuk saya jabarkan dalam system karena memerlukan penjelasan lebih lanjut agar pengertiannya sama sehingga tidak terjadi kesalahan pencatatan dalam penyusunan laporan keuangannya. Namun demikian system aplikasi yang akan diterapkan sudah saya siapkan.

Jumat sore saya sudah terbang ke Balikpapan untuk bertemu dan bisa menyelesaikan penyusunan Laporan Keuangan yang diminta, dan saya dipertemukan dengan dua orang pengurus koperasinya, yang salah satunya Pak Zuhadi. Karena sudah larut malam dan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya kita bersepakat untuk memulai bekerja pada hari sabtu pagi.

Pada hari pertama, saya berusaha menggali data dan memfasilitasi teman-teman dari pengurus koperasi tersebut untuk bisa mewujudkan laporan keuangannya, untung saja koperasi ini baru berjalan kurang lebih dua tahun, sehingga akhirnya kami menyepekati untuk merekonstruksi kembali dan menyusun laporan keuangan dari awal berdiri, tanpa banyak membuang waktu dan hanya sesekali keluar untuk sholat dan makan, akhirnya menjelang jam 10 malam kami telah berhasil menyelesaikan dan menyusun laporan keuangan untuk dua tahun, tinggal memperbaiki dan menyempurnakannya.

Walaupun sudah bekerja hampir seharian, namun saya sangat salut dengan semangat pengurus koperasinya, yang meminta agar pekerjaannya dilanjutkan hingga jam 12 malam untuk bisa menyempurnakan laporan keuangannya, namun karena ada dokumen dan data yang tertinggal dan masih harus dikonfirmasi akhirnya tetap saja kami harus menunda sementara penyempurnaannya.

Dihari kedua kami membagi pekerjaan, sambil menyempurnakan aplikasi excel yang digunakan sebagai alat bantu yang saya gunakan untuk menyusun laporan keuangannya, sementara itu saya minta pengurus dapat mencoba mengaplikasikan system yang telah dibuat untuk diaplikasikan di koperasinya, sambil sesekali saya memberikan bimbingan dan mengarahkan baik akuntansinya maupun cara penggunaannya.

Karena dibatas oleh jam check out hotel yang kami tempati, akhirnya kami hanya bisa bekerja hingga pukul 12 siang saja, dan Alhamdulilah aplikasinya selesai dikerjakan, dan pengurus koperasi mampu menyelesaikan transaksi untuk dua bulan pertama tahun 2013.

Selama berinteraksi dengan teman-teman dari koperasi tersebut, saya sangat salut dengan semangat dari para pengurusnya, yang tetap semangat untuk belajar dan menyelesaikan laporan pertanggunjawaban sebaik mungkin, dengan penuh keterbukaan. Hal ini juga yang membuat saya lebih mudah untuk bisa segera membantu menyusun laporan keuangannya karena seluruh data yang ada diberikan, sehingga saya lebih mudah untuk menulusuri transaksi-transaksinya.

Satu hal lagi yang membuat saya salut, yaitu pak Zuhadi, selain dia sebagai karyawan, dia juga ternyata telah menggeleluti beberapa usaha pribadi/ berwirausaha. Luar Biasaaa, semoga usahanya semakin lancar.

Saturday, October 26, 2013

Dalam perjalanan pulang naik KRL ke bogor seperti biasa, saya harus berdesak-desakan dengan penumpang lain, ya memang beginilah perjuangan hidup. Agar bisa bernasib baik tidak berdiri sepanjang perjalanan ke Bogor, saya berusaha menyelinap ke arah tengah dihadapan penumpang yang sudah duluan duduk berjejer. 

Disamping aku berdiri seorang lelaki sudah agak-agak tua sih dengan berpakaian sedikit agak kotor dan ya lumayanlah agak harum-harum sedikit sayangnya bukan harum parfum yang aku bisa endus hehehe..maklumlah perjalanan dimalam hari mana ada yang masih bersemilir bau parfum...kecuali ditempat-tempat hiburan malam mungkin situasinya lain kali yah.

Dalam perjalanan sekali-kali terdengar suara batuk belomba dengan kerasnya suara roda kereta menghantam rel besi....hemmm nasib-nasib gerutuku dalam hati, tentunya untuk berpindah ke tempat lain sudah susah karena memang keretanya penuh banget, tinggal berdoa saja dalam hati mudah-mudahan segera ada yang turun nih penumpang yang pada duduk sehingga saya bisa menggantikan posisinya.

Tak lama kemudian kebetulan sekali penumpang yang didepanku mulai siap-siap berdiri...hemmm nasib baik nih pikirku, dan dengan secepat mungkin saya berusaha untuk bisa mendepatkan posisi tempat duduknya. Alhamdulilah akhirnya bisa duduk juga.

Namun tak begitu lama hanya berlalu beberapa statsiun penumpang yang diduduk disebelahku juga siap-siap berdiri untuk turun...hemmmm alamat duduk bersebelahan dengan si pak tua tadi nih, gerutuku dalam hati. Yups benar saja si Pak Tua tadi duduk disebelahku, dan ternyata dialah yang membawa karung besar yang entah isinya apa. Setelah duduk dia berusaha menarik karung bawannya tersebut, melihat kondisi itu tak tega juga rasanya membiarkan ia menarik-narik karungnya karena nyangkut dipenumpang lain. Sejenak ku ulurkan tanganku untuk membantunya dan akhirnya berpindahlah karung tersebut dihadapannya.

Tiba-tiba dia membuka pembicaraan "Saya baru selesai nih potong hewan kurban di kantor walikota, banyak banget sapi yang dipotongnya hingga baru dua hari nih selesai, makanya saya baru bisa bawa nih daging buat bagian saya, nih iga sapi yang masih utuh belum saya potong-potong. 

Hemmm dalam hati pantesan dari tadi agak bau semerbak nih, ternyata pak tua ini bawa daging. Kok bisa banyak banget ya bawa dagingnya dalam hatiku, padahal itu kan daging buat kurban.

"Ini daging kurban, jadi saya gak bisa jual dagingnya, haram nanti kalau saya jual, nanti saya mau bagi-bagikan ke tetangga saya" begitulah dia melanjutkan kata-katanya.

Subhanallah dalam hatiku, ternyata saya salah duga juga nih, ternyata dia tidak seperti yang saya bayangkan dia masih punya prinsip hidup.

Sejurus kemudian dia melanjutkan kata-katanya "Bapak mau dagingnya, kalau mau saya kasih nih sebagian" sambil dia membuka tali karung yang dibawanya. "oh, gak usah pa makasih banyak, udah gak usaha merepotkan" (dalam hati lumayan juga nih kalau dapet hehehe). "cuma gimana ya saya motongnya soalnya nih masih utuh satu iga, kalau ada golok saya potongin nih" katanya, dan dia berusaha untuk memotong sebagian yang bisa dia potong, ya dia berhasil memotong sebagian tulang-tulang iganya "Ini dek mau dibawa dagingnya" tanyanya kepadaku, "Oh gak usaha pak makasih-makasih" timpalku (dalam hati gimana bawanya ya tuh daging sapi kalau saya ambil, masa saya nenteng-nenteng daging mentah tanpa dibungkus apapun sampai ke Bogor.

"Ini pak, mau dibawa" timpalnya kemudian "Cuman gak ada tempatnya ya....gimana ya" begitulah kata-kata yang muncul berikutnya. "Oh ya bapak turun dimana?" tanyanya kepada ku "Di Bogor pak" sahut ku. "Waduh sayang yah kalau kita turun sama-sama di Cilebut nanti kita bisa bagi disana", "iya pak sudah makasih gak apa-apa, terimakasih atas kebaikan bapak" saya menimpali pembicaraannya. Rupanya dia masih bepikir bagaimana dia bisa memberikan sebagian daging yang dibawanya buat dibawa saya, dan anehnya dia hanya menawarkan daging itu kepada saya tidak ke penumpang-penumpang lain yang juga berdiri disekitar kita.

"waduh gimana ya...saya sebentar lagi turun nih..." ia melanjutkan pembicaraannya, "ya sudah pa gak apa-apa makasih" timpalku sambil meyakinkan ia bahwa saya senang atas niat baiknya. "Baik kalau gitu, mudah-mudahan nanti lain waktu kita bisa ketemu lagi ya pa, mudah-mudahan Allah memberikan umur panjang, Insya Allah kalau saya ketemu bapak lagi dan saya dapat rejeki daging lagi lagi saya akan kasih bapak" itu lah kata-kata terakhir yang ia sampaikan sebelum turun. "Baik pa makasih hati-hati" timpalku pada saat dia mau turun.

Setelah turun, saya cukup berpikir juga, ada beberapa hikmah yang saya peroleh dari kejadian tersebut, yang pertama sebaiknya kita tidak berpikir negatif sama orang lain, karena belum tentu orang tersebut seperti apa yang kita pikirikan, kedua orang tersebut mungkin mau berbagi daging bawaannya karena saya berusaha membantu mengankat karungnya ketika dia mau memindahkahan karung tersebut kehadapannya, pertolongan yang mungkin tidak terlalu berarti namun ternyata bisa mendatangkan rejeki buat kita, dan yang ketiga ketika rejeki itu belum menjadi bagian kita maka walaupun rejeki itu sudah didepan mata, tidak juga kita bisa membawanya pulang.

Begitulah sepenggal cerita yang mudah-mudahan bisa memberikan hikmah buat kita.

Friday, October 25, 2013

Ilmu Ajug, hemm apa itu ajug ya, Ajug istilah dalam bahasa sunda itu berarti lampu terbuat dari kayu/bambu dengan menggunakan minyak tanah, sejenis dengan lilin sekarang. Ajug itu biasanya digunakan untuk penerangan pada masa lalu didaerah pedesan yang memang belum tersentuh dengan Program Listrik Masuk Desa. (Hemmm emang kalau dulu ya belum semua daerah bisa merasakan terangnya lampu listrik kan).

Ajug ini biasanya disimpan di tengah-tengah rumah untuk menerangi satu ruangan, hanya karena bentuknya itu satu ruangan bisa terang namun biasanya badan ajugnya sendiri tidak terang karena cahaya terang apinya terhalangi oleh badan lampunya itu sendiri. 

Nah apa kaitannya dengan ilmu ajug ? Pasti itu kan yang jadi pertanyaannya.

Jadi karena ajug itu menerangi ruangan tapi badan dia sendiri gelap, maka ilmu ajug itu akhirnya digunakan utnuk istilah bagi orang yang menyebarkan ilmu yang bisa memberikan pencerahan dan penerangan kepada orang lain, tapi si pemberi ilmunya sendiri kegelapan, karena dia sendiri tidak melaksanakan ilmu yang disampaikannya kepada orang lain.
Pemilik elmu ajug boleh jadi memiliki kecakapan berbicara kepada orang lain, namun tak punya kehendak yang tulus memberikan keteladanan. 
Menyuruh hidup penuh kesederhanaan dengan cara mengencangkan ikat pinggang, namun dirinya sendiri bergelimang kemewahan. Memaklumatkan “katakan tidak” pada korupsi, tapi diam-diam diri (dan kelompoknya) terseret arus hidup korup, rakus dan tamak. Poligami diserang, tapi diam-diam istri simpanan di setiap pengkolan.
Inlah ilmu bunuh diri. Ilmu yang telah menyebabkan manusia bukan pinter tapi guminter. Bukan kecerdasan tapi keculasan. Tidak mendatangkan kearifan malah menimbulkan penghianatan.

Nah begitulah kira-kira tentang ilmu ajug itu.

Sekarang kembali lagi ke diri kita, apakah kita termasuk orang-orang yang "Ilmu Ajug" hemmmm bisa jadi ya, apalagi kalau kita dalam posisi sebagai pemimpin sebuah lembaga, perusahaan atau usaha, mungkin kita sering memberikan nasehat kepada bawahan kita, supaya tidak belaku yang tidak benar, kerja harus rajin, kerja harus cepat, tidak boleh curang, padahal diam-diam kita melakukannya sendiri.

Nah kalau disandingkan dalam ilmu Agama mungkin tipe orang semacam ini termasuk dalam kelompok orang-orang yang munafik. Hemm Naudzubilah Himindalik semoga kita tidak termasuk kedalam golongan orang-orang yang memiliki tabiat "Ilmu Ajug".

Wednesday, October 23, 2013

Hemmm ada-ada saja memang ya nasib yang dialami oleh masyarakat golongan ekonomi lemah, sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah mungkin pribahasa yang sering dialami.

Dalam perjalanan ke kantor dipertigaan sopir angkot meminggirkan kendaraanya untuk menaikan penumpang, namun seperti biasa karena pertigaan tersebut sering membuat kemacetan maka pada pagi hari pasti ada PJR atau pegawai Dishub yang menjaga supaya angkot tidak berhenti sembarangan di dekat pertigaan tersebut, dan benar saja baru saja penumpang naik petugas Dishub langsung saja mendekati dan memarahi sang sopir, "ya Pak maaf kasihan ini penumpangnya" begitulah pembelan sang sopir.

Tiba-tiba penumpang lain mengomentari, "haduh bagaimana sih nih petugas, masa mau menaikan penumpang saja gak boleh, kan kasian penumpang kalau harus jalan jauh" (memang dinegara ini, selalu saja ada pembelaan kalau buat kepentingan pribadi, walaupun sebenarnya petugas itu sih benar juga, karena kalau angkot berhentinya sembarangan sudah pasti akan menimbulkan kemacetan dan pasti akan banyak orang yang merasakan akibatnya).

"Iya, nih pake bikin razia-razia segala, kapok saya naek motor sekarang karena banyak razia" begitulah timpal sang ibu yang duduk dihadapanku. "Kemaren nih pas mau lebaran, anak saya kena tilang, gara-gara gak pake helm, padahal kan perjalanannya dekat, jadi kan gak usah pake helm, eh ada razia, trus harus bayar, dah ditawar-tawar tetep aja gak mau turun, akhirnya uang dua ratus yang buat beli ayam dikasihkan anak saya ke petugas razia, ya anak saya pulang lagi, jadi gak bisa beli ayam deh" ibu itu terus nyerocos mengungkapkan kekesalan rupanya.

Lagi-lagi nih dalam hati salah petugas lagi nih, padahal mungkin bener juga tuh petugas karena menggunakan sepeda motor ke jalan raya ya aturannya tetap harus menggunakan helm, jadi wajar juga kalau dia kena tilang.

Tapi disisin lain saya pikir juga, sableng juga tuh ya petugas, masa karena gak pake helm sampai harus bayar sebitu banyak ya, apa karena mau lebaran ya jadi tarif razia jadi naek hehehehe, sebenarnya tau gak yah kalau uang itu ternyata buat beli ayam yang mungkin akan menjadi santapan buat keluarganya pada saat merayakan hari raya, mending kalau ia masih punya duit lagi buat penggantinya, kalau enggak hemm bisa jadi lebarannya hanya dengan ketupat saja tanpa ada daging ayam. 

Hemmmm nasib-nasib yah, kadang jadi orang kecil itu tidak mengenakan kalau dalam situasi begini.

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!