Sudah dari tanggal 3 Februari ini saya berada di Kota Timika, Papua. Mungkin ini kedatangan ku untuk yang ke dua kalinya setelah pada tahun awal tahun 2004 saya meninggalkan Kota Timika setelah tinggal di sini selama kurang lebih 3 tahun. Sudah banyak perubahan yang cukup terlihat di Kota Timika, baik dari jumlah orang maupun infrastruktur. Sekarang Kota Timika sudah luamayan rame lah walaupun lingkungan kotanya masih disitu-situ juga, maklum kota Timika ini termasuk kota kecil jadi kalau kita berputar keliling kota dalam waktu 15 menit saja mungkin udah selesai. Emang kalau buat pendatang yang terbiasa di lingkungan yang agak-agak rame mungkin terasa ada yang hilangjuga sih dan sedikit menjemukan, karena disini lingkunganya itu-itu aja. Belum lagi kadang kita merasa sedih karena melihat prilaku dan budaya masyarakat alsi yang emang agak agak ribet kayannya mungkin karena keterbelakan pendidikan mereka juga sih dan salah satu faktor lainnya adalah adanya lonjakan sosial yang sangat jauh bila dibandingkan dengan saat mereka masih dikampoeng-kampoeng pedalaman dan saat ini berada di lingkungan masyarakat pendatang yang nota bene memiliki pendidikan dan budaya yang berbeda dengan mereka.
Kadang kalau di ingat miris juga sih melihatnya, ada perbedaan yang sangat jauh antara kehidupan masyarakat asli dengan masyarakat pendatang. Apalagi kalau kita bandingkan dengan karyawan-karyawan PT FI yang mungkin punya penghasilan yang lebih besar dengan segala fasilitas yang dimilikinya. Terasa sangat kontras. Walaupun kita tau juga bahwa sudah banyak upaya yang dilakukan oleh PT FI untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat asli baik untuk bidang ekonomi maupun dalam bidang pendidikan.
Belum banyak perubahan yang berarti dalam kehidupan sosial masyrakat asli di sini setelah hampir 4 tahun saya meninggalkan kota Timika ini. Bahkan saya melihat kehidupan masyarakat asli semakin tersisihkan oleh masyarakat pendatang. Kalau kita perhatikan toko-toko yang ada diseluruh Kota Timika kayannya hampir 100 % dikuasai dan dikelola oleh masyarakat pendatang yang masyarakat asli lakukan hanya berjualan sayuran dan buah-buahan secara tradisional di Pasar. Mungkin ini salah satu masalah sosial yang harus diselesaikan dan diantisipasi juga. Karena tidak menutup kemunkinan ini akan menjadi bom waktu gesekan sosial masyarakat akibat semakin lebarnya perbedaan sosial ekonomi antara masyarakat pendatang dengan masyarakat asli.


0 comments:
Post a Comment